Anak kreatif itu bagus. Namun, tak
segampang itu mencetaknya. Ada kiat-kiat yang harus Anda ikuti. Apa saja?
Memiliki
anak yang kreatif adalah dambaan setiap orangtua. Masalahnya, kreativitas bukan
anugerah yang diberikan Tuhan dalam bentuk jadi tanpa adanya usaha, melainkan
butuh proses untuk mendapatkannya. Proses ini tentu butuh campur tangan
orangtua sebagai konseptor, yang berperan penting dalam menentukan
hitam-putihnya masa depan anak.
Sebagai konseptor yang ingin membangun suatu
kepribadian,
orangtua perlu menyadari bahwa, pribadi yang kreatif adalah
pribadi yang mendekati kesempurnaan. Dengan kata lain, pribadi yang kompleks,
yang memahami keberadaan diri sendiri serta lingkungannya.
Karena itu, menciptakan anak yang kreatif tidak semudah
membalik telapak tangan. Butuh upaya keras, berkesinambungan, serta kesabaran
esktra untuk melalui tahap demi tahap, sesuai perkembangan kemampuan berfikir
anak. Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membangun kreativitas anak, di
antaranya adalah:
1. Memilihkan
sarana bermain yang sesuai
Pada dasarnya, anak memiliki energi yang lebih. Bermain
merupakan penyaluran terbaik untuk membuang surplus energi mereka itu. Dengan
bermain, selain memperoleh kegembiraan, kenikmatan, dan kepuasan, anak juga
akan mendapatkan manfaatnya, seperti bertumbuhnya segi fisik-motorik,
mental-intelektual/kognitif, sosial, moral, emosional, dan tentunya
kreativitas. Dengan bermain, anak sekaligus belajar tentang konsep bentuk,
ukuran, warna, jumlah, dan kegunaan objek.
Begitu pentingnya arti bermain bagi anak, sehingga dalam buku-buku psikologi perkembangan, bermain dipandang sebagai unsur penting dalam perkembangan seluruh unsur kepribadian anak. Karena itu, orangtua sedapat mungkin menyediakan sarana dan alat bermain (toys) yang dapat merangsang kreativitas anak. Tentu saja, sarana dan alat bermain ini harus sesuai dengan kemampuan berpikir dan daya interaksi anak.
Begitu pentingnya arti bermain bagi anak, sehingga dalam buku-buku psikologi perkembangan, bermain dipandang sebagai unsur penting dalam perkembangan seluruh unsur kepribadian anak. Karena itu, orangtua sedapat mungkin menyediakan sarana dan alat bermain (toys) yang dapat merangsang kreativitas anak. Tentu saja, sarana dan alat bermain ini harus sesuai dengan kemampuan berpikir dan daya interaksi anak.
2. Kenalkan
dengan lingkungan Sosial
Pengenalan terhadap lingkungan sosial akan memberikan
bekal empiris kepada anak yang kelak bermasyarakat dalam alam pergaulan dewasa.
Anak dilatih mengerti fungsi berbagi diri, pada saat yang sama seorang anak,
selain menjadi dirinya sendiri, juga merupakan bagian yang organis dari sebuah
kelompok, komunitas. Dalam hal ini, anak berkembang menjadi dirinya sendiri,
sekaligus berkenalan dengan aturan main, dengan norma, sehingga dia dapat
bergaul dengan wajar.
3. Ajak
berhubungan dengan alam
Mengajak anak berhubungan dengan alam tidak sebatas
mengenalkan mereka dengan nama-nama benda yang ada di sekitarnya, melainkan
juga merangsang imajinasi anak untuk dapat memanfaatkan benda-benda tersebut,
walaupun pemanfaatannya untuk hal-hal yang sederhana. Misalnya, memanfaatkan
benda yang ada di sekitarnya untuk dibuat mainan. Pemanfaatan bahan mentah
sehingga menjadi bentuk jadi ini akan membuka kesadaran anak akan perlunya
berkreasi dengan alam.
Selain itu, beri kesempatan pada anak untuk berinteraksi dengan alam. Sekali waktu, biarkan anak berjalan telanjang kaki di atas tanah, dan jangan terlalu memaksa mereka untuk selalu mengenakan sandal atau sepatu. Agar mereka dapat merasakan sakitnya menginjak kerikil, atau merasakan lembutnya rerumputan yang menggesek kulit kaki. Ini akan membuat anak dapat merasakan berbagai hal, serta menjadikan mereka tidak manja dan mudah mengeluh.
Selain itu, beri kesempatan pada anak untuk berinteraksi dengan alam. Sekali waktu, biarkan anak berjalan telanjang kaki di atas tanah, dan jangan terlalu memaksa mereka untuk selalu mengenakan sandal atau sepatu. Agar mereka dapat merasakan sakitnya menginjak kerikil, atau merasakan lembutnya rerumputan yang menggesek kulit kaki. Ini akan membuat anak dapat merasakan berbagai hal, serta menjadikan mereka tidak manja dan mudah mengeluh.
4. Jangan
asal melarang
Seringkali, cara pandang terhadap suatu masalah antara
orang dewasa dengan anak-anak berbeda. Sesuatu yang menurut anak-anak baik
untuk dikerjakan, bisa jadi sebaliknya di mata orang dewasa. Untuk itu, selami
pikiran anak-anak, pahami maksud dari apa yang dia kerjakan, dan jangan asal
melarang.
Bila kita terpaksa melarang apa yang sedang dikerjakan
anak-anak, seperti mencoret-coret dinding, atau merusakkan barang-barang,
usahakan tidak melarang secara tegas. Beri dia pengertian dengan kalimat yang
mendidik dan dapat dipahami oleh anak. Usahakan untuk memberi pengertian kepada
anak bahwa Anda sebenarnya cukup menghargai proses kreatif yang dia kerjakan.
Selama ini yang sering terjadi, anak dilarang mengerjakan segala sesuatu tanpa
penjelasan yang memadai, padahal penjelasan sangat perlu untuk tidak mematikan
kreativitas anak.
5. Beri
kebebasan dan keamanan psikologis
Kreativitas anak dapat tumbuh pesat apabila mendapat
kebebasan dan keamanan psikologis dalam berkreativitas. Kebebasan dan keamanan
psikologis yang dimaksud adalah, anak bebas mengerjakan segala sesuatu tanpa
tekanan/paksaan serta larangan dari lingkungan terutama dari orang tua. Anak
dibebaskan mengerjakan apa saja. Tugas orangtua hanya sebatas memberi pengarahan,
tanpa melakukan paksaan. Bila kebebasan beraktivitas didapatkan, secara
psikologis anak akan merasa aman untuk berkreasi, tanpa merasa takut dikecam,
disalahkan, atau dimarahi.
6. Hargai
usahanya
Jangan sekali-kali menyepelekan kerja dan usaha anak.
Sekecil apapun, hargailah. Menghargai
usaha anak memungkinkan anak bisa menghargai barang, dan bukan harga barang
itu. Penghargaan yang diberikan akan menciptakan iklim sehat dalam batin anak.
Anak akan merasa bahwa kehadirannya diterima, diperhatikan, dan diakui. Hal ini
akan menumbuhkan rasa percaya diri yang besar pada diri anak.
7. Libatkan
dalam aktifitas Anda
Sekali waktu, libatkan anak dalam aktivitas yang Anda
kerjakan. Misalnya, menyuruh anak membubuhkan garam pada masakan, memberikan
sisa-sisa potongan sayuran yang Anda masak, dan membiarkan dia sibuk
berimajinasi dengan masakannya sendiri yang berbahan sisa-sisa masakan Anda.
Bisa juga dengan mengajaknya membetulkan kursi, sepeda, atau perabot
rumah-tangga yang rusak, menyulam, merangkai bunga, atau membuat sesuatu dari
bahan bekas hingga menjadi berguna.
Cara ini akan menyuburkan kegairahan anak dengan pengetahuan yang dia miliki. Anda juga bisa menanamkan pengetahuan, memberikan pelajaran dengan cara yang menyenangkan. Dan yang terpenting, anak akan termotivasi dengan contoh-contoh yang Anda berikan.
Cara ini akan menyuburkan kegairahan anak dengan pengetahuan yang dia miliki. Anda juga bisa menanamkan pengetahuan, memberikan pelajaran dengan cara yang menyenangkan. Dan yang terpenting, anak akan termotivasi dengan contoh-contoh yang Anda berikan.
8. Ciptakan
komunikasi yang sehat
Komunikasi yang sehat adalah terjalinnya dialog akrab
dua arah, antara orang tua dan anak, dalam level pengetahuan anak, tentang
berbagai hal yang telah dimengerti anak, atau tentang hal yang semestinya
diketahui anak. Komunikasi yang sehat akan menciptakan kedekatan antara orangtua
dan anak, baik secara fisik maupun psikis. Kedekatan inilah yang melahirkan
kebersamaan dan kehangatan hubungan yang merupakan gizi bagi jiwa anak.
Bila komunikasi dua arah terjalin baik, anak tak akan
ragu dan takut mengungkapkan isi hati, pikiran, keinginan, dan maksud yang
merupakan jembatan dari kreativitas yang terselubung dalam diri sang anak dan orangtua
pun akan dapat mengerti dan memahami kehendak anak, sehingga dapat mewujudkan
sarana dan fasilitas yang dibutuhkan untuk mewadahi kreativitas anak.
Demikianlah pembahasan bagaimana membangun kreatifitas
anak-anak kita semoga kita mendapatkan manfaat dari tulisan diatas. Amin...
