Lembaga pendidikan hanya sebuah
sarana dan sekolah hanya sekadar tempat singgah anak untuk menjalani persiapan
menuju jenjang pendidikan berikutnya. Namun, sangat disayangkan sebagian
lembaga pendidikan ternyata lebih banyak mewarnai perilaku dan tabiat keduniaan
saja. Padahal sukses dunia-akhirat adalah pertimbangan utama.
Banyak orang awam dan berkantong tebal salah dalam
memilih lembaga pendidikan. Alih-alih mempertimbangkan kebersihan akidah dan
keluhuran akhlak bagi anak-anaknya, mereka hanya berorientasi pada keberhasilan
di dunia. Alhasil,
mereka hanya memilih sekolah favorit yang ternama dan
bergengsi walaupun harus mengeluarkan biaya yang sangat besar. Sekolah mahal
hanya dipakai sebagai alat untuk menunjukkan bahwa orangtua mampu menyekolahkan
anak di sekolah pilihan orang kaya. Bila sudah begini, janganlah terlalu
berharap memiliki anak shalih / shalihah.
Berikut beberapa contoh kurang tepatnya orang tua
dalam memberikan pendidikan untuk anak-anaknya:
1. Salah Niat
Seringkali orangtua menyekolahkan anak karena malu
pada tetangga bila anaknya bodoh atau kalah kecerdasannya, atau khawatir kelak
anaknya tidak mendapat pekerjaaan yang layak. Atau, si orangtua hanya ingin
agar anaknya nanti menjadi pengawai negeri dan pejabat tinggi yang banyak harta
dan hidup mapan. Padahal, orangtua haruslah berangkat dari niat menjalankan perintah
Allah, yaitu memenuhi kewajiban hamba sebagai orangtua yang memang dituntut
untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi hamba Allah SWT yang bertakwa dan
shalih, yang menjadi simpanan abadi di akhirat kelak dalam firman-Nya yang
berarti.
“Maka Tuhannya
menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan
pendidikan yang baik ...” (QS.Ali Imron:37).
“Ya Tuhanku, jadikanlah
aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami,
perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim :40)
Sayangnya, saat ini justru sekolah yang melulu
berorientasi pada keberhasilan dunialah yang menjadi prioritas bagi kebanyakan
orang. Mereka tak memperhatikan apakah terjadi ikhtilat atau tidak. Sehingga
kemaksiatan mudah tercipta di sekolah tersebut, karena landasan agama kurang
diperhatikan, sementara dunia menjadi tujuan. Lihatlah, di sekolah-sekolah yang
ikhtilat, banyak terjadi kasus zina melalui budaya pacaran, pergaulan bebas,
dan asmara buta sehingga kekejian merebak dan perzinaan merajalela.
2. Kurang Tepat Memilih Sekolahan
Bisa jadi orangtua sudah benar dalam niat, tapi karena
ilmu agamanya yang minim, ia salah mencarikan lembaga pendidikan bagi
anak-anaknya. Misalnya, ia ingin anaknya paham ilmu agama, maka ia main
masukkan saja anaknya ke sekolah agama seperti madrasah atau pesantren yang
mana akidah adan akhlak para santri benar-benar terkontrol. Harus diakui, saat
ini masih ada sekolah islam yang disitu kurang mengedepankan sisi akidah dan
akhlak para santrinya. Alhasil, pemahaman dan efek buruklah yang diterima sang
anak. Kelak ia pun secara sistematis akan tumbuh menjadi generasi dengan
pemahaman dan pengamalan yang menyimpang dari akidah dan akhlak uswah kita
Rasulullah SAW.
3. Kurang tepat memberikan Teladan
Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, keteladan
memiliki pengaruh kuat dalam proses pendidikan anak. Perilaku orangtua maupun
guru berdampak kuat bagi pembentukan kematangan pribadi sang anak. Teladan yang
salah akan membuat anak terdidik di atas kebiasaan buruk dan perilaku negatif.
Karena itu, orangtua harus memberikan contoh kepada putra-putrinya dan memilih
pendidik yang menjunjung tinggi nilai-nilai akidah dan moral, serta memiliki
kelebihan ilmu dan amal dibanding murid-muridnya.
4. Salah Metode Pendidikan
Bisa saja pelajaran yang diberikan kepada sang anak
sudah baik, tapi cara penyampaiannya yang kurang tepat, sehingga tujuan dan
target pendidikan tidak tercapai, atau anak didik menjadi gagal. Mendisiplinkan
anak-anak dengan sanksi kekerasan fisik, misalnya, hanya membentuk anak
berwatak keras. Sebaliknya, memberi toleransi yang berlebihan akan membuat anak
semakin manja. Anak yang selalu dipenuhi permintaan materinya akan tumbuh
menjadi anak yang cinta dunia, sementara anak yang biasa diabaikan
permintaannya, secara tidak langsung anak juga akan mengabaikan nasehat-nasehat
yang diberikan kepadanya. Baik Dirumah maupun disekolah hendaknya perlu kita
memperhatikan metode pembelajaran bagi anak-anak kita. Memberikan sanksi yang
tepat kepada si anak yang melakukan kesalahan perlu diterapkan, tujuanya untuk
memberikan pelajaran bagi anak kita agar selalu ingat dengan kesalahanya dan
jika sudah begitu anak tidak akan mengulangi kesalahanya.Memberikan sanksi yang
kurang tepat kepada anak juga bisa berakibat fatal, anak menjadi berwatak keras
sehingga efeknya dia juga akan keras dan tidak bijaksana dalam memperlakukan orang
lain. Kebanyakan disekolah anak hanya dikekang dengan hafalan, tapi kurang diajak
memahami suatu permasalahan dan kita hanya bisa memberikan masukan kepada pihak
sekolah agar lebih profesional dan bijaksana dalam mendidik siswa-siswinya oleh
karena itu, kita sebagai orang tua harus ada kontrol lebih terhadap anak agar
perilaku anak tetap bisa dipantau.
5. Motivasi yang Kurang Tepat
Kesalahan orangtua atau guru dalam memberi motivasi
kepada anak didiknya bisa memberi dampak yang kurang baik. Contoh, mendorong
anak berprestasi dengan hadiah yang menggiurkan, atau memotivasi anak
berprestasi agar tidak tersaingi oleh teman-temannya, atau memotivasi anak agar
bangga dengan prestasi yang telah dicapainya. Motivasi yang demikian itu akan
merusak watak dan pribadi anak, karena anak terdorong bersungguh-sungguh dalam
menuntut ilmu bukan karena Allah, melainkan karena ingin berprestasi dan
mendapat hadiah yang menggiurkan.
Parahnya lagi, hanya untuk mengejar hadiah yang
dijanjikan, si anak bisa saja menghalalkan segala cara, dengan mencontek atau
berbuat curang lainnya, yang penting hadiah didapat. Alhasil, bila dia tidak
bisa berprestasi, maka dia akan menjadi orang yang frustasi dan malas belajar,
sedangkan pada anak yang didorong agar tidak tersaingi oleh teman-temannya akan
timbul sifat angkuh, sombong dan egois. Dan anak yang dimotivasi agar bangga
dengan prestasi yang dicapainya, tumbuh menjadi anak yang tidak pandai
bersyukur kepada Allah; ia hanya bersemangat menuntut ilmu, tapi kehilangan
kendali bila gagal. Akan tetapi contoh diatas bisa menjadi motivasi yang
positif ketika kita disamping memberikan motivasi seperti tersebut diatas kita
juga meluruskan niat si anak tentang niatan dalam menutut ilmu, bagaimana ilmu
itu tidak hanya bermanfaat didunia saja melainkan ilmu itu juga dapat
menyelamatkan hidupnya kelak di akherat.
6. Membatasi Kreativitas Anak
Ada sebagian orangtua yang membatasi, memaksa dan
selalu menentukan kreativitas anak. Ini akan mengekang bakat anak, membuat anak
kurang percaya diri, tidak pandai bergaul, dan cenderung memisahkan diri dari
teman-temannya. Seharusnya orangtua mengarahkan, membimbing, mendorong dan
memberi fasilitas agar anak mengembangkan kreativitasnya sepanjang kreativitas
itu tidak melanggar syariat, tidak merugikan dan mengganggu orang lain, dan
bermanfaat untuk diri orang lain maupun agamanya. Anak yang merasa didukung
kreativitasnya akan tumbuh dengan kepala yang penuh ide cemerlang dan menjadi
orang yang bertanggung jawab, sekaligus menjadi anak yang taat kepada Allah,
Rosul serta orang-tuanya.
7. Membatasi Pergaulan
Kadang, karena tidak ingin anak terpengaruh oleh
perilaku buruk teman-temannya, orangtua bertindak sangat protektif terhadap
anaknya. Bahkan, anak tak boleh “nimbrung” jika orang tuanya sedang menerima
tamu. Atau, anak hanya diperbolehkan bergaul dengan teman-teman tertentu yang
belum tentu shalih, tapi justru dilarang mendekati temannya yang shalih dan
rajin beribadah.
Sikap orangtua seperti di atas membuat anak menjadi
pemalu dan tidak pandai bergaul, atau akan membuat anak mudah merendahkan orang
lain yang dianggap tidak selevel dengannya. Orangtua bijaksana akan mengawasi
pergaulan anak-anaknya, tanpa terlalu membatasi tapi juga tidak membiarkan anak
bergaul bebas. Orangtua harus selalu mengingatkan dan memantau agar anak
bergaul dengan orang-orang shalih, yang paham As-Sunnah, rajin beribadah dan
berakhlak mulia serta teman-teman yang bisa memotivasinya menjadi orang yang
bermanfaat untuk diri, agama, orang tua dan orang di sekitarnya.
8. Tidak Disiplin dan Kurang Tertib
Ketidakdisiplinan dan kurang tertibnya orang tua dalam
mendidik anak akan membuat anak juga tidak disiplin dan tertib dalam menjalani
hidupnya. Orangtua dan para pendidik harus menanamkan hidup disiplin dan tertib
sejak usia dini sehingga anak terbiasa hidup disiplin dan tertib dalam
menunaikan tugas-tugas harian, terutama yang terkait dengan kewajiban agama dan
ibadah kepada Allah, tugas rumah dan tugas sekolahan. Anak harus dilatih untuk
membiasakan shalat fardhu tepat waktu dan berjemaah di masjid (bagi anak
laki-laki), melatih diri untuk berpuasa, serta menaati perintah orangtua dalam
kebaikan, bukan dalam kemaksiatan. Setiap orangtua atau pendidik hendaknya
membuatkan jadwal rutin harian, yang berkaitan dengan ibadah, tugas harian
maupun tugas sekolah, dan orangtua harus senantiasa mengontrol dan mengawasinya
jangan sampai ada yang terlewatkan.
9. Hanya Pendidikan Formal
Sebagian orangtua sudah merasa cukup mendidik anak
bila sudah memberi mereka pendidikan formal atau kursus bimbingan belajar.
Padahal, kebanyakan lembaga tersebut mengajarkan ilmu keduniaan saja, tanpa
memedulikan kebutuhan prinsipil seperti pendidikan akidah, pembinaan akhlak dan
pendidikan yang berbasis pada kemandirian. Alhasil, lulus dari pendidikan
formal, anak tidak bisa menghadapi realitas dan persaingan hidup. Sebab,
kebutuhan ilmu sang anak tidak dapat dipenuhi hanya melalui madrasah saja.
Dengan kata
lain, setiap anak harus membekali dirinya dengan berbagai pengetahuan yang
berkaitan dengan realitas hidup, perkembangan teknologi, bisnis, informasi,
komunikasi, situasi terkini, dunia tumbuhan dan binatang. Dan untuk itu,
orangtua haruslah aktif dan selektif dalam memilihkan bacaan, yaitu memilihkan
bacaan yang bermanfaat dan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Karenanya,
pendidikan non formal, terutama pendidikan agama mutlak diperlukan, karena
dengan pendidikan inilah si anak akan dapat menyaring, mana ilmu teknologi,
bisnis, komunikasi, dan segala hal yang bermanfaat atau justru berpotensi
merusak akidah maupun akhlak seseorang.
10. Kurang Mengenalkan Tanggung Jawab
Orangtua harus menumbuhkan kesadaran dan rasa tanggung
jawab yang tinggi pada anak-anaknya akan tugas dan kewajiban mereka, baik yang
terkait dengan urusan agama maupun dunia. Masing-masing harus merasa bahwa
tugas sekecil apa pun merupakan amanah yang harus diemban dan beban tanggung
jawab yang harus dipikul sepenuh kemampuan. Anak harus dilatih untuk lebih
dahulu menunaikan kewajiban dari pada menuntut haknya baik hubungannya dengan
Allah Subhanahu wa Ta’ala maupun kepada sesama manusia terutama kepada
orangtua, sanak-kerabat dan teman-temannya.
Orangtua
harus mengenalkan kepada anak-anaknya tanggung jawab kepada agama, diri, dan
lingkungannya. Bahkan anak harus dikenalkan pada kewajiban zakat, infak dan
sedekah, menyantuni anak yatim dan fakir-miskin agar tumbuh rasa tanggung jawab
dan sensitivitasnya pada agama dan lingkungan, baik lingkungan rumah maupun
sekolah.
11. Khawatir yang Berlebihan
Perasaan takut terhadap keselamatan dan rasa khawatir
terhadap masa depan anak merupakan sifat yang wajar ada pada setiap orangtua.
Namun, perasaan itu akan berubah menjadi bahaya bila berlebihan dan berubah
menjadi was-was akan keselamatan anaknya, bersikap bakhil karena takut beban
biaya hidup anaknya tidak terpenuhi, dan mencintai anak secara berlebihan.
12. Kurang Sabar dalam Menerima Hasil
Bisa jadi orangtua sudah punya target-target tertentu
atas pendidikan anaknya, atau boleh jadi orangtua telah mendidik anaknya untuk
mengganti jabatannya atau memegang perusahaannya setelah dia meninggal.
Namun, ternyata sang anak mengecewakannya. Bukan karena ia nakal dan
membangkang, melainkan karena bakat sang anak tidak sejalan dengan keinginan
dan harapan orangtuanya. Akhirnya, kita dengar orang tua mencerca anaknya,
“Tinggal belajar saja kok tidak bisa. Makanya, belajar yang betul!”
Padahal,
kita semua sadar bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengaruniakan kecerdasan dan
kemampuan yang berbeda kepada setiap hamba-Nya. Seharusnya orang tua bersikap
bijak. Kewajiban orangtua hanyalah berusaha semaksimal mungkin
mengarahkan dan membina anak-anaknya, sedangkan hasilnya, Allah Maha Adil dan
Maha Tahu apa yang tetbaik bagi hamba-Nya. Jadi, kenapa orangtua harus kecewa
dengan hasil yang tidak sesuai keinginannya? Bukankah lebih baik
mengutamakan kesabaran dan keistikomahan dalam mendidik dan mengarahkan anak,
daripada terpaku pada hasil akhirnya?
13. Curiga Berlebihan
Orang tua harus bersikap terbuka dan memberi
kepercayaan kepada anak. Sikap ini akan memperlancar komunikasi dan interaksi
dengan anak maupun anggota keluarga yang lain. Keterbukaan dan
kepercayaan juga akan membuat anak mencintai orangtuanya secara tulus dan
memandang penuh hormat dan kasih pada keduanya. Sebaliknya, bila orang tua
mudah menuduh tanpa bukti, mencurigai setiap gerak-gerik anak tanpa alasan dan
menganggap anak berkhianat kepada orangtuanya, perasaan anak akan
tercabik-cabik, kekecewaan tumbuh, dan kemarahan anak kepada orangtua akan
tersulut. Apalagi bila anak merasa apa yang dituduhkan kepadanya tidak benar. Oleh
karena itu, orang tua harus berhati-hati dalam menilai anak-anaknya. Jangan
mudah curiga dan menuduh anak dengan sesuatu tanpa alasan dan bukti hanya
karena kurang cinta atau cemburu. Orang tua juga tidak boleh meremehkan
kemampuan dan kelebihan anak dengan menganggapnya masih terlalu kecil.
Di pihak lain, sang anak pun tak boleh mudah memvonis
orangtuanya tidak sayang dan membencinya. Seharusnya seorang anak bersabar
menghadapi sikap orang tua yang kurang berkenan dan sebaiknya mencari informasi
yang sebenarnya kenapa orangtuanya bersikap demikian, dan menghilangkan dendam
kepada orangtua karena sikapnya tersebut. Sebab, dendam yang dibiarkan bisa
memutus hubungan silaturahim. Maka, pupuklah sikap saling percaya,
tumbuhkan empati, dan sikap terbuka dalam menghadapi setiap masalah.
14. Menjauhkan Anak dari Orang Shalih
Kalau tidak bergaul dengan ulama atau orang shalih,
pasti kita akan bergaul dengan orang-orang bodoh dan ahli maksiat. Kedekatan
dengan para ulama dan orang shalih akan memotivasi anak untuk cinta pada
kebaikan, amal shalih, dan lingkungan yang bagus. Siapa yang berkumpul dengan
orang-orang baik atau hidup di lingkungan yang baik, akan tertular kebaikannya.
Dan siapa yang berkumpul dengan orang-orang buruk atau hidup di lingkungan yang
buruk, akan pula terkena getah keburukannya.
Wahai anak
shalih yang mendambakan surga, jangan biarkan dirimu bergaul dengan orang buruk
berhati serigala, orang munafik, orang fasik dan ahli bid’ah perusak agama.
Ingat, orang yang baik akan dikumpulkan bersama orang baik dan orang yang buruk
akan berkumpul dengan orang yang buruk. Dan pada Hari Kiamat kelak, seseorang
dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.
